NAGARA TENGAH : 0023. GULA AREN :
Dari jauh kelihatan ada dataran sawah yg luas, ditengahnya ada sebuah rumah panggung, berdinding bilik bambu beratap genteng, dibelakang rumah ada kolam ikan, sekeliling lahan yg berbatasan dg sawah tumbuh subur pohon2 mangga.
Sampai dirumah langsung disambut nenek Mukinah, Ya Allah semoga engkau menerima amal baiknya, mengampuni segala dosanya, melapangkan alam kuburnya serta menyayangi mereka, karena mereka telah mengasihi kami waktu kami masih kecil, Aamiin.
Jam 9.00 kakek Nata baru datang membawa pikulan lodong bambu berisi air nira hasil sadapan sore kemaren, ini adalah kake ke2, kakek Marna sudah lama meninggal ake tdk sempat tahu.
Setelah semua lodong disandarkan di dinding dapur, kakek Nata duduk di bale2 dapur istirahat melepas penat, nenek nengantar kopi panas dan bubuy sampeu hangat.
Selesai minum kopi dan sarapan singkong kakek menggulung rokok daun kawung dan merokok sambil bersandar didinding rumah, asap rokonya membumbung bersamaan dg asap dapur.
Kancah sudah terpasang diatas tungku dg bara api dari kayu sengon, nenek mengambil lodong nira dituang kedalam kancah dg saringan, hampir penuh.
Proses membuat gula merah dimulai, setelah hampir 2 jam mengaduk, air nira yg menggelegak dipepes dg kelapa dan kulit cengkir , mulai surut dan mengental, makin lama makin kental api dikecilkan dan gula merah kental didinginkan.
Nenek menyiapkan cetakan dari bambu bulat yg dipotong setebal 2 senti, dibasahi dan mulai dituang gula kental kedalamnya, ake disodori gula kental diatas bogol batang pisang, cepat dingin dan mengeras.
Gula merah muda anget dimakan dg teh tubruk hangat, rasanya pas hangat pahit dan berujung manis gulanya, mantap.
Ake segera keluar rumah, sejak datang sudah terlihat diatas pucuk2 pohon mangga, banyak sekali sarang burung, dlm 1 batang ada 4/5 buah sarang.
Dipanjat satu2, sedang pada bertelor, rupanya burung pipit banyak bersarang disitu karena dekat dg ladang makanan, padi sawah yg sedang menguning.
Beberapa sarang diambil telornya dan digoreng utk sarapan pagi, sekedar ingin tahu rasanya, enak dan kenyang, tapi kasihan emak burungnya yah.
Sampai dirumah langsung disambut nenek Mukinah, Ya Allah semoga engkau menerima amal baiknya, mengampuni segala dosanya, melapangkan alam kuburnya serta menyayangi mereka, karena mereka telah mengasihi kami waktu kami masih kecil, Aamiin.
Jam 9.00 kakek Nata baru datang membawa pikulan lodong bambu berisi air nira hasil sadapan sore kemaren, ini adalah kake ke2, kakek Marna sudah lama meninggal ake tdk sempat tahu.
Setelah semua lodong disandarkan di dinding dapur, kakek Nata duduk di bale2 dapur istirahat melepas penat, nenek nengantar kopi panas dan bubuy sampeu hangat.
Selesai minum kopi dan sarapan singkong kakek menggulung rokok daun kawung dan merokok sambil bersandar didinding rumah, asap rokonya membumbung bersamaan dg asap dapur.
Kancah sudah terpasang diatas tungku dg bara api dari kayu sengon, nenek mengambil lodong nira dituang kedalam kancah dg saringan, hampir penuh.
Proses membuat gula merah dimulai, setelah hampir 2 jam mengaduk, air nira yg menggelegak dipepes dg kelapa dan kulit cengkir , mulai surut dan mengental, makin lama makin kental api dikecilkan dan gula merah kental didinginkan.
Nenek menyiapkan cetakan dari bambu bulat yg dipotong setebal 2 senti, dibasahi dan mulai dituang gula kental kedalamnya, ake disodori gula kental diatas bogol batang pisang, cepat dingin dan mengeras.
Gula merah muda anget dimakan dg teh tubruk hangat, rasanya pas hangat pahit dan berujung manis gulanya, mantap.
Ake segera keluar rumah, sejak datang sudah terlihat diatas pucuk2 pohon mangga, banyak sekali sarang burung, dlm 1 batang ada 4/5 buah sarang.
Dipanjat satu2, sedang pada bertelor, rupanya burung pipit banyak bersarang disitu karena dekat dg ladang makanan, padi sawah yg sedang menguning.
Beberapa sarang diambil telornya dan digoreng utk sarapan pagi, sekedar ingin tahu rasanya, enak dan kenyang, tapi kasihan emak burungnya yah.
Komentar
Posting Komentar